Pendidikan…tak berbatas ruang dan waktu

Pada dasarnya manusia hidup memiliki cita-cita dan harapan masa depan untuk hidup  lebih baik dari apa yang sudah dirasakannya saat ini. Sejak lahir ke dunia sampai menjadi manusia dewasa  kita  selalu diperkenalkan baik oleh orang tua, oleh orang orang terdekat  kita atau oleh lingkungan sekitar kita tentang pentingnya perjuangan  meraih kehidupan yang lebih baik . Berbagai nasihat baik lisan maupun tulisan bahkan tindakan yang dapat menimbulkan motivasi dan semangat meraih keberhasilan   selalu dicontohkan dan dipropagandakan kepada kita oleh  orang-orang yang menyayangi  dan memiliki kepedulian terhadap kita.

Apa yang dilakukan seperti yang digambarkan diatas sebenarnya  merupakan budaya manusia dalam berproses melakukan tindakan mendidik manusia lainnya, untuk menguatkan dan meluruskan  sifat-sifat dasar dan potensi yang telah dimiliki sejak lahir. Budaya tersebut telah menunjukan  sifat universal pendidikan dalam arti pendidikan tidak mengenal tempat, tidak mengenal waktu dan tidak mengenal orang, dimanapun, kapanpun dan siapapun bisa menerima  dan melakukan proses pendidikan terhadap siapapun .

Namun jika kita melihat paradigma pendidikan yang berkembang di sebagian masyarakat saat ini , dimana pendidikan totalitas dipercayakan ditempat-tempat yang memiliki label sekolah atau campus      seperti     yang      ada  sekarang , ini menunjukan berkurangnya pemahaman dan cara pandang terhadap ke universalan dan hakikat pendidikan . Hal ini terjadi mungkin karena  kondisi saat ini yang sudah  sangat kompleks sebagai konsekwensi dari perkembangan ilmu, teknologi dan informasi , yang berdampak pada tergesernya budaya  dasar proses mendidik dan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan tersebut. Tersitanya waktu, tempat dan tenaga oleh tuntutan pekerjaan atau tugas rutin yang semakin kompetitif  setiap anggota keluarga, telah menjadi  peluang menggerus  tanggung jawab  komunikasi edukasi langsung antar  anggota keluarga. Meskipun mungkin bagi sebagian anggota masyarakat lainnya hal itu bisa diatasi melalui komunikasi secara digital sebagai upaya tidak terputusnya proses mendidik  dalam  keluarga.

Namun apapun status kita dimasyarakat, apapun cara pandang kita tentang pendidikan, sesibuk apapun yang terjadi saat ini, semestinya kita tidak boleh  memutus rantai pendidikan dalam keluarga yang kemudian mempercayakan secara total  pendidikan anggota keluarga kita  ke suatu lembaga pendidikan tertentu, sebab merekapun sama memiliki keterbatasan apalagi sekolah menghimpun siswa dalam jumlah yang banyak. Intinya kiita tidak boleh mengelak dari pengaruh perkembangan jaman itu, tetapi   Menciptakan keluarga terdidik harus tetap berjalan pada setiap kesempatan dari dan oleh setiap anggota keluarga,   sebab  sampai kapanpun pendidikan keluarga dan keluarga terdidik merupakan aset dan kebutuhan dasar untuk  dapat survive dalam kehidupan di saat ini.

Bahwa komunikasi edukasi   memiliki peranan penting dalam penciptaan harmonisasi pendidikan dalam keluarga, maka sekecil apapun kesempatan yang ada disela-sela kesibukan kita masing-masing harus dapat kita manfaatkan untuk melakukan edukasi ,Mengkomunikasikan setiap informasi  dan pengalaman pengalaman empiris pada keluarga kita. menjadikan setiap orang sebagai guru, menjadikan setiap tempat menjadi kelas dan menjadikan setiap kejadian sebagai ilmu adalah hal yang bijak untuk mendidik dan menjadi terdidik…semoga bermanfaat.(Pakar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.